Keutamaan Kota Madinah



Keutamaan Madinah

Madinah adalah tempat tinggal Rasulullah shalallahu'alaihi wa sallam, negeri hijrahnya dan tempat turunnya wahyu. Rasulullah shalallahu'alaihi wa sallam telah mengharamkannya (bagi non muslim) sebagaimana Nabi Ibrahim telah mengharamkan Makkah al-Mukarramah. Nabi shalallahu'alaihi wa sallam bersabda,

اَللَّهُمَّ إِنَّ إِبْرَاهِيْمَ حَرَّمَ مَكَّةَ وَأَنَا أُحَرِّمُ مَا بَيْنَ لَابَتَيْهَا

"Ya Allah, sesungguhnya Nabi Ibrahim telah mengharamkan Makkah, dan aku mengharamkan daerah yang ada di antara kedua bukit bebatuan hitam (Madinah)." [1]

sabda beliau yang lain,

اَلْمَدِيْنَةُ حَرَامٌ مَا بَيْنَ عَائِرٍ إِلَى ثَوْرٍ، فَمَنْ أَحْدَثَ فِيْهَا حَدَثًا, أَوْ آوَى مُحْدِثًا, فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللهِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِيْنَ، لَا يُقْبَلُ مِنْهُ صَرْفٌ وَلَا عَدْلٌ، لَا يُخْتَلَى خَلَاهَا، وَلَا يُنَفَّرُ صَيْدُهَا، وَلَا تُلْتَقَطُ لُقَطَتُهَا، إِلَّا لِمَنْ أَشَادَ بِهَا، وَلَا يَصْلُحُ لِرَجُلٍ أَنْ يَحْمِلَ فِيْهَا السِّلَاحَ لِقِتَالٍ، وَلَا يَصْلُحُ أَنْ يُقْطَعَ مِنْهَا شَجَرَةٌ، إِلَّا أَنْ يَعْلِفَ رَجُلٌ بَعِيْرَهُ،

" Madinah adalah tanah haram di antara gunung 'A'ir hingga gunung Tsaur. Barangsiapa yang berbuat zhalim (kerusakan didalamnya) atau melindungi orang zhalim (merusak). maka dia pasti tertimpa laknat Allah, para malaikat dan seluruh manusia, tidak diterima darinya amal-amal wajib maupun amal-amal sunnah. (di tanah itu) tidak boleh dicabuti rerumputannya, tidak boleh diburu binatang buruannya dan tidak boleh di ambil barang temuannya kecuali bagi yang ingin mengumumkannya. tidak dibenarkan didalamnya seseorang menghunus pedang untuk membunuh (berperang), dan tidak dibenarkan pohonnya untuk ditebang kecuali orang yang hendak memberikannya (sebagai makan) untanya." [2]

Adi bin Zaid Radhiallahu'anhu berkata," Rasulullah shalallahu'alaihi wa sallam melindungi setiap sudut Madinah hingga setiap tempat berjarak perjalanan setengah hari. Daun-daun pohon madinah tidak boleh dirontokan dan tidak boleh ditebang kecuali apa yang hendak diberikan kepada unta." [3]

Rasulullah shalallahu'alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الْإِيْمَانَ لَيَأْرِزُ إِلَى الْمَدِيْنَةِ كَمَا تَأْرِزُ الْحَيَّةُ إِلَى جُحْرِهَا، لَا يَصْبِرُ عَلَى لَأْوَائِهَا وَشِدَّتِهَا أَحَدٌ إِلَّا كُنْتُ لَهُ شَفِيْعًا أَوْ شَهِيْدًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ

"Sesungguhnya keimanan itu akan berkumpul di Madinah sebagaimana ular berkumpul ke dalam lubangnya. Tidaklah seseorang bersabar atas kesulitan dan kesusahannya kecuali aku menjadi pemberi syafa'at atau saksi baginya pada hari kiamat." [4]


Free to share


مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يَمُوْتَ بِالْمَدِيْنَةِ فَلْيَفْعَلْ، فَإِنِّيْ أَشْهَدُ لِمَنْ مَاتَ بِهَا

"Barangsiapa di antara kalian yang bisa meninggal di Madinah, hendaklah ia lakukan, karena sesungguhnya aku bersaksi bagi yang meninggal disana." [5]

Maksud dari hadits di atas bukanlah bunuh diri disana (di madinah) akan tetapi dianjurkan untuk meninggal di Madinah karena disana terdapat berabagai macam kuburan para sahabat bahkan Rasulullah shalallahu'alaihi wa sallam, jadi jika seseorang ditakdirkan oleh Allah meninggal disana, maka itu adalah hal yang istimewa [kajian Ustadz Dr. Khalid basalamah.Lc, M.A. Senin 27 Dzulqa'dah 1440 H ]

إِنَّمَا الْمَدِيْنَةُ كَالْكِيْرِ تَنْفِي خَبَثَهَا وَيَنْصَعُ طَيِّبُهَا

"Sesungguhnya Madinah itu Laksana alat peniup api yang menghilangkan hal-hal yang buruk (kemaksiatan, kefasikan dan kemunafikan) dan memurnikan hal-hal yang baik." [6]

الْمَدِيْنَةُ خَيْرٌ لَهُمْ لَوْ كَانُوْا يَعْلَمُوْنَ، لَا يَدَعُهَا أَحَدٌ رَغْبَةٌ عَنْهَا إِلَّا أَبْدَلَ اللهُ فِيْهَا مَنْ هُوَ خَيْرٌ مِنْهُ وَلَا يَثْبُتُ أَحَدٌ عَلَى لَأْوَائِهَا وَجُهْدِهَا إِلَّا كُنْتُ لَهُ شَفِيْعًا أَوْ شَهِيْدًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ

" Madinah adalah baik bagi mereka, jika mereka mengetahui. Tidaklah seseorang meninggalkannya karena benci terhadapnya melainkan (pasti) Allah menggantikan padanya (Madinah) orang yang lebih baik darinya (orang tersebut). Dan tidaklah seseorang tabah terhadap kesulitan dan kesusahannya melainkan aku menjadi pemberi syafa'at atau saksi baginya pada Hari Kiamat." [7]

Note :
[1] Diriwayatkan oleh Imam Muslim
[2] Diriwayatkan oleh Imam Muslim no. 1370
[3] Diriwayatkan oleh Abu Dawud no. 2036 dengan sanad yang baik
[4] Muttafaq'alaih : al-Bukhari, no. 1876; Muslim, no.147
[5] Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, no. 3917, Ibnu Majah, no. 3112 dan lainnya
[6] Diriwayatkan oleh Muslim no. 1383
[7] Diriwayatkan oleh Muslim no. 1363

ARTIKEL DAILYMUSLIM_ID
Aritkel ini di tulis oleh Mohammad Aidul Azis pada Selasa, 28 Dzulqa'dah 1440 H / 30 Juli 2019 M

DAFTAR PUSTAKA
-Kitab Minhajul Muslim oleh Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jaza'iri selaku pengajar tetap di Masjid Nabawi (Madinah) diterjemahkan oleh Darul Haq dan diizinkan oleh penerbit asli kitab tersebut di Madinah tanggal 5 Ramadhan 1430 H / 26 Agustus 2009


- Kajian Ustadz Dr. Khalid basalamah Lc, MA. pada senin 27 Dzulqa'dah 1440 H / 29 Juli 2019 M 

DUKUNG DENGAN SUBSCRIBE DIBAWAH

jangan lupa di konfirmasi dulu ya di email antum, agar bisa mendapat notifikasi dailymuslim_id via email

0 Response to "Keutamaan Kota Madinah"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel