Shalat sunnah rawatib Lengkap


PENJELASAN SHALAT SUNNAH RAWATIB

Shalat sunnah rawatib  adalah shalat sunnah yang mengiringi shalat lima waktu. Shalat sunnah rawatib yang dikerjakan sebelum shalat wajib disebut shalat sunnah qobliyah sedangkan shalat sesudah shalat wajib disebut shalat sunnah ba'diyah,

TUJUANNYA

tujuan disyari'atkannya shalat sunnah qobliyah adalah agar jiwa memiliki persiapan sebelum melaksanakan shalat wajib, perlu dipersiapkan karena sebelumnya jiwa kita telah disibukan dengan berbagai urusan dunia. Agar jiwa tidak lalai dan siap, maka ada shalat sunnah qobliyah terlebih dahulu.

Sedangkan shalat sunnah ba'diyah dilaksanakan untuk menutup beberapa kekurangan dalam shalat wajib yang baru dilakukan. Karena pasti ada kekurangan disana-sini ketika kita melakukan shalat wajib.

KEUTAMAAN SHALAT SUNNAH RAWATIB

1. Shalat adalah sebaik-baik amalan

Nabi shalallahu'alaihi wa sallam bersabda,

وَاعْلَمُوا أَنَّ خَيْرَ أَعْمَالِكُمُ الصَّلاَةُ

"Ketahuilah, Sebaik-baik amalan bagi kalian adalah shalat."  [HR. Ibnu Majah no. 277, Ad Darimi no. 655 dan Ahmad (5/282), dari Tsauban. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.]

2. Akan meninggikan derajat disurga karena banyaknya shalat tathowwu' (shalat sunnah) yang dilakukan

Tsauban (bekas budak Rasulullah shalallahu'alaihi wa sallam) pernah ditanyakan mengenai amalan yang paling dicintai oleh Allah. Kemudian Tsauban mengatakan bahwa beliau pernah menanyakan hal tersebut kepada Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam, lantas beliau menjawab,

عَلَيْكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ لِلَّهِ فَإِنَّكَ لاَ تَسْجُدُ لِلَّهِ سَجْدَةً إِلاَّ رَفَعَكَ اللَّهُ بِهَا دَرَجَةً وَحَطَّ عَنْكَ بِهَا خَطِيئَةً

"Hendaklah engkau memperbanyak sujud kepada Allah karena tidaklah engkau bersujud pada Allah dengan sekali sujud melainkan Allah akan meninggikan satu derajatmu dan menghapuskan satu kesalahanmu." [HR. Muslim no. 488]

hadits diatas menjelaskan bahwa sekali sujud sudah meningkatkan derajat, bagaimana dengan banyak sujud dalam shalat-shalat baik itu shalat fardu dengan shalat-shalat sunnah lainnya.

3. Menutup kekurangan dalam shalat wajib

Seseorang ketika melaksanakan shalat lima waktu seringkali mendapat kekurangan disana-sini baik dari pikirannya yang lalai, tidak khusyuk, lupa dan lain sebagainya,sebagaimana diisyaratkan oleh nabi Shalallahu'alaihi wa sallam, 

إِنَّ الرَّجُلَ لَيَنْصَرِفُ وَمَا كُتِبَ لَهُ إِلاَّ عُشْرُ صَلاَتِهِ تُسْعُهَا ثُمُنُهَا سُبُعُهَا سُدُسُهَا خُمُسُهَا رُبُعُهَا ثُلُثُهَا نِصْفُهَا

"Sesungguhnya seorang ketika selesai dari shalatnya hanya tercatat baginya sepersepuluh, sepersembilan, seperdelapan, sepertujuh, seperenam, seperlima. seperempat, sepertiga, separuh dari shalatnya." [HR. Abu Daud no. 796 dan Ahmad (4/321), dari ‘Ammar bin Yasir. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan.]

untuk menutupi kekurangan tersebut, disyari'atkanlah shalat sunnah. Nabi Shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ النَّاسُ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ أَعْمَالِهِمُ الصَّلاَةُ قَالَ يَقُولُ رَبُّنَا جَلَّ وَعَزَّ لِمَلاَئِكَتِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ انْظُرُوا فِى صَلاَةِ عَبْدِى أَتَمَّهَا أَمْ نَقَصَهَا فَإِنْ كَانَتْ تَامَّةً كُتِبَتْ لَهُ تَامَّةً وَإِنْ كَانَ انْتَقَصَ مِنْهَا شَيْئًا قَالَ انْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِى مِنْ تَطَوُّعٍ فَإِنْ كَانَ لَهُ تَطَوُّعٌ قَالَ أَتِمُّوا لِعَبْدِى فَرِيضَتَهُ مِنْ تَطَوُّعِهِ ثُمَّ تُؤْخَذُ الأَعْمَالُ عَلَى ذَاكُمْ

"Sesungguhnya amalan yang pertama kali akan diperhitungkan dari manusia pada hari kiamat adalah amalan-amalan mereka adalah shalat. Kemudian Allah Ta'ala mengatakan pada malaikatnya dan dia lebih mengetahui segala sesuatu, "Lihatlah kalian pada shalat hamba-ku, apakah sempurna ataukah memiliki kekurangan? jika shalatnya sempurna, maka akan dicatat baginya pahala yang sempurna. Namun, jika shalatnya terdapat beberapa kekurangan, maka lihatlah kalian pada hamba-ku memiliki amalan shalat sunnah? jika ia memiliki shalat sunnah, maka sempurnakanlah pahala bagi hamba-Ku dikarenakan shalat sunnah yang ia lakukan. Kemudian amalan-amalan lainnya hampir sama seperti itu." [HR. Abu Daud no. 864, dari Abu Hurairah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.]

4. Rutin mengerjakan shalat rawatib 12 raka'at dalam sehari akan dibangunkan rumah disurga.

Dari Ummu Habibah (Istri Nabi shalallahu'alaihi wa sallam), Rasulullah Shalallahu'alaihi wa sallam bersabda,

« مَنْ صَلَّى اثْنَتَىْ عَشْرَةَ رَكْعَةً فِى يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ بُنِىَ لَهُ بِهِنَّ بَيْتٌ فِى الْجَنَّةِ

"Barangsiapa mengerjakan shalat sunnah dalam sehari-semalam sebanyak 12 raka'at, maka karena sebab amalan tersebut, ia akan dibangunkan sebuah rumah disurga." [HR. Muslim no. 728.]

coba kita lihat bagaimana keadaan para periwayat hadits diatas ketika mendengar hadits tersebut. diantara periwayat hadits diatas adalah

  • An Nu'man bin Salim
  • 'Amr bin Aws
  • 'Ambasah bin Abi Sufyan 
  • Ummu Habibah (Istri Nabi Shalallahu'alaihi wa sallam) yang mendengar dari Nabi shalallahu'alaihi wa sallam secara langsung

Ummu Habibah mengatakan, "Aku tidak pernah meninggalkan shalat sunnah dua belas raka'at dalam sehari sejak aku mendengar Hadits tersebut langsung dari Rasulullah shalallahu'alaihi wa sallam."

'Ambasah mengatakan, " Aku tidak pernah meninggalkan shalat sunnah dua belas raka'at dalam shari sejak aku mendengar hadits tersebut dari Ummu Habibah."

'Amr bin Aws mengatakan, "Aku tidak pernah meninggalkan shalat sunnah dua belas raka'at dalam sehari sejak aku mendengar hadits tersebut dari 'Ambasah."

An Nu'man bin Salim mengatakan," Aku tidak pernah meninggalkan shalat sunnah dua belas raka'at dalam sehari sejak aku mendengar hadits tersebut dari 'Amr bin aws."

yang dimaksudkan dengan shalat sunnah dua belas raka'at dalam sehari dijelaskan dalam riwayat At-Tirmidzi, dari 'Aisyah. Nabi Shalallahu'alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ ثَابَرَ عَلَى ثِنْتَىْ عَشْرَةَ رَكْعَةً مِنَ السُّنَّةِ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْفَجْرِ

"Barangsiapa merutinkan shalat sunnah dua belas raka'at dalam sehari, maka Allah akan membagunkan bagi dia sebuah rumah disurga. Dua belas raka'at tersebut adalah empat raka'at sebelum zhuhur, dua raka'at sesudah zhuhur, dua raka'at sesudah maghrib, dua raka'at sesudah 'isya, dan dua raka'at sebelum subuh."[HR. Tirmidz no. 414, dari ‘Aisyah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.]

Free Share

Hadits diatas menunjukan dianjurkannya merutinkan shalat sunnah rawatib sebanyak 12 raka'at setiap harinya. [Lihat Bughyatul Mutathowwi’fii Sholati At Tathowwu’.]

Dua belas raka'at rawatib yang dianjurkan untuk dijaga adalah :
  1. Empat raka'at sebelum dzuhur [Dikerjakan dua raka’at salam dan dua raka’at salam.]
  2. dua raka'at sesudah dzuhur
  3. dua raka'at sesudah maghrib
  4. dua raka'at sesudah 'Isya
  5. dua raka'at sebelum subuh.

SHALAT QOBLIYAH SUBUH JANGAN SAMPAI DITINGGALKAN

Shalat sunnah qobliyah subuh atau shalat sunnah fajr memiliki keutamaan sangat luar biasa. diantaranya disebutkan dalam hadits 'Aisyah Radiallahu'anha,

رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا

"Dua raka'at sunnah fajar (Qobliyah subuh) lebih baik daripada dunia dan seisinya."[HR. Muslim no. 725.]

Nabi shalallahu'alaihi wa sallam sangat bersemangat melakukan shalat ini, sampai-sampai ketika safar pun beliau terus merutinkannya.

'Aisyah Radiallahu'anha mengatakan,

لَمْ يَكُنِ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – عَلَى شَىْءٍ مِنَ النَّوَافِلِ أَشَدَّ مِنْهُ تَعَاهُدًا عَلَى رَكْعَتَىِ الْفَجْرِ

"Nabi shalallahu'alaihi wa sallam tidaklah memiliki perhatian yang luar biasa untuk shalat sunnah selain shalat sunnah fajar."[HR. Bukhari no. 1169.]

Ibnul Qayyim mengatakan, "Termasuk diantara petunjuk Nabi shalallahu'alaihi wa sallam ketika bersafar adalah mengqoshor shalat fardhu dan beliau tidak mengerjakan shalat sunnah rawatib qobliyah dan ba'diyah. Yang biasa beliau tetap lakukan adalah mengerjakan shalat sunnah witr dan shalat sunnah qobliyah subuh. Beliau tidak pernah meninggalkan kedua shalat ini baik ketika bermukim dan ketika bersafar." [Zaadul Ma’ad, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, 1/456, Muassasah Ar Risalah, cetakan keempat, 1407 H. [Tahqiq: Syu’aib Al Arnauth, ‘Abdul Qadir Al Arnauth]]

TIGA MODEL SHALAT SUNNAH RAWATIB ZHUHUR

dalam melakukan shalat sunnah rawatib zhuhur ada tiga model yang bisa dilakukan.

Pertama. Empat raka'at sebelum zhuhur dan dua raka'at sesudah zhuhur sebagaimana telah dikemukakan dalam hadits 'Aisyah di atas.

Kedua. Empat raka'at sebelum zhuhur dan empat raka'at sesudah zhuhur. Hal ini sebagaimana terdapat dalam hadits Ummu Habibah. Rasulullah shalallahu'alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ حَافَظَ عَلَى أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ قَبْلَ الظُّهْرِ وَأَرْبَعٍ بَعْدَهَا حَرُمَ عَلَى النَّارِ


"Barangsiapa merutinkan shalat sunnah empat raka'at sebelum zhuhur dan empat raka'at sesudah zhuhur, maka akan diharamkan baginya neraka."[HR.Abu Daud no. 1269, An Nasa-i no. 1816, dan At Tirmidzi no. 428. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.]

Ketiga. Dua raka'at sebelum zhuhur dan dua raka'at sesudah zhuhur. Dari Ibnu 'Umar, beliau mengatakan,

فِظْتُ مِنَ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – عَشْرَ رَكَعَاتٍ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الظُّهْرِ ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ فِى بَيْتِهِ ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ فِى بَيْتِهِ ، وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ صَلاَةِ الصُّبْحِ


"Aku menghafal dari Nabi shalallahu'alaihi wa sallam sepuluh raka'at (sunnah rawatib), yaitu dua raka'at sebelum zhuhur, dua raka'at sesudah zhuhur, dua raka'at sesudah maghrib, dua raka'at sesudah 'Isya, dan dua raka'at sebelum subuh." [HR. Bukhari no. 1180.]

RINGKASAN JUMLAH RAKA'AT SHALAT RAWATIB

Shalat Rawatib ada yang Muakkad (ditekankan untuk dikerjakan) dan ghoiru muakkad (tidak begitu ditekankan untuk dikerjakan). Mengenai jumlah raka'at shalat sunnah rawatib tersebut, kami lampirkan pada tabel berikut.[Shahih Fiqh Sunnah, 1/381.]



Sumber : Shahih Fiqh Sunnah, Abu Malik, 1/381 (Hasil kesimpulan dari berbagai macam hadits yang membicarakan mengenai shalat sunnah rawatib)


FREE SHARE QUOTES



LEBIH BAGUS MENJALANKAN SHALAT SUNNAH DIRUMAH

Diantara petunjuk Nabi shalallahu'alaihi wa sallam adalah menjalankan setiap shalat sunnah dirumah, kecuali jika memang ada hajat atau faktor lain yang mendorong untuk melakukan dimasjid.

Nabi shalallahu'alaihi wa sallam bersabda,

فَإِنَّ أَفْضَلَ الصَّلاَةِ صَلاَةُ الْمَرْءِ فِى بَيْتِهِ إِلاَّ الْمَكْتُوبَةَ


"Sesungguhnya sutama-utama shalat adalah shalat seorang dirumahnya selain shalat wajib."[HR. Bukhari no. 731 dan Muslim no. 781.]

diantara keutamaan lainnya mengerjakan shalat dirumah, apalagi ketika baru datang dari masjid atau akan pergi ke masjid terdapat dalam hadits Abu Hurairah Radiallahu'anhu, Nabi shalallahu'alaihi wa sallam bersabda,

إذا خرجت من منزلك فصل ركعتين يمنعانك من مخرج السوء وإذا دخلت إلى منزلك فصل ركعتين يمنعانك من مدخل السوء


"Jika engkau keluar dari rumahmu, maka lakukanlah shalat dua raka'at yang dengan ini akan menghalangimu dari kejelekan yang ada diluar rumah. Jika engkau memasuki rumahmu, maka lakukanlah shalat dua raka'at yang akan menghalangimu dari kejelekan kedalam rumah".[HR. Al Bazzar. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat As Silsilah Ash Shohihah no. 1323.]

KONTINU DALAM AMALAN ITU LEBIH BAIK

Dari 'Aisyah radiallahu'anha, beliau mengatakan bahwa Rasulullah shalallahu'alaihi wa sallam bersabda,

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ


"Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta'ala adalah amalan yang kontinu walaupun itu sedikit." 'Aisyah pun ketika melakukan suatu amalan selalu berkeinginan keras untuk merutinkannya.[HR. Muslim no. 783, Kitab shalat para musafir dan qasharnya, Bab Keutamaan amalan shalat malam yang kontinu dan amalan lainnya.]

An Nawawi rahimahullah mengatakan, "Ketahuilah bahwa amalan yang sedikit namun konsekuen dilakukan, itu lebih baik dari amalan yang banyak namun cuma sesekali saja dilakukan. Ingatlah bahwa amalan sedikit yang rutin dilakukan akan melanggenkan amalan ketaatan, dzikir, pendekatan diri kepada Allah, niat keikhlasan dalam beramal, juga akan membuat amalan tersebut diterima oleh sang kholiq subhanahu wa ta'ala. Amalan sedikit namun konsekuen dilakukan akan memberikan ganjaran yang besar dan berlipat dibandingkan dengan amalan yang sedikit namun sesekali saja dilakukan."[Syarh Muslim, An Nawawi, 6/71, Dar Ihya’ At Turots, cetakan kedua, tahun 1392 H.]

Ibnu Rajab Al-Hambali menjelaskan, "Amalan yang dilakukan oleh Nabi shalallahu'alaihi wa sallam adalah amalan yang konsekuen dilakukan (kontinu). Beliau pun melarang memutuskan amalan yang meninggalkannya begitu saja. Sebagaimana beliau pernah melarang melakukan hal ini pada sahabar 'Abdullah bin 'Umar." [Fathul Baari lii Ibni Rajab, 1/84, Asy Syamilah]

Demikianlah penjelasan tentang shalat sunnah rawatib
Semoga bermanfaat
Barakallahu fikum
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

SUMBER = Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel ini ditulis oleh Mohammad Aidul Azis pada tanggal 07 April 2019 / 3 Sya'ban 1440 H

DUKUNG DENGAN SUBSCRIBE DIBAWAH

jangan lupa di konfirmasi dulu ya di email antum, agar bisa mendapat notifikasi dailymuslim_id via email

0 Response to "Shalat sunnah rawatib Lengkap "

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel