Ingin bertaubat / Taubatan nasuha, shalat taubat dll silahkan baca


Setiap hamba pasti pernah terjerumus kedalam dosa, baik itu dosa kecil maupun besar. Bisa saja seseorang telah terjerumus dalam perzinaahan, membunuh seseorang tanpa jalan yang benar, meminum khamr, atau sering kali meninggalkan shalat wajib atau shalat lima waktu, padahal meninggalkan shalat wajib walaupun sekali itu termasuk kedalam dosa besar, karena telah meninggalkan kewajiban yang Allah perintahkan. Bahkan disebut sebagai tanda kesyirikan dan kekufuran sebagaimana tertera dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim no. 82.

klik link untuk melihat hadits  >> KLIK <<

Dan itulah hal-hal yang termasuk kedalam dosa besar. Mungkin saja diantara kita pernah terjerumus dalam dosa tersebut, lantas adakah pintu taubat dari dosa tersebut? Tentu saja pintu tersebut masih terbuka, Ampunan Allah begitu luas.

Sebuah hadits yang patut jadi renungan, dari Anas bin Malik, ia menceritakan bahwa Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam bersabda, Allah Ta’ala berfirman

قَالَ اللَّهُ يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِى وَرَجَوْتَنِى غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيكَ وَلاَ أُبَالِى يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِى غَفَرْتُ لَكَ وَلاَ أُبَالِى يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِى بِقُرَابِ الأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيتَنِى لاَ تُشْرِكُ بِى شَيْئًا لأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً


“Wahai anak Adam, sesungguhnya jika engkau menyeru dan mengharap pada-Ku, maka pasti Aku ampuni dosa-dosamu tanpa Aku pedulikan. Wahai anak Adam, seandainya dosamu membumbung tinggi hingga ke langit, tentu akan Aku ampuni, tanpa Aku pedulikan. Wahai anak Adam, seandainya engkau mendatangi-Ku dengan dosa sepenuh bumi dalam keadaan tidak berbuat syirik sedikitpun pada-Ku, tentu Aku akan mendatangi-Mu dengan ampunan sepenuh bumi pula.” (HR. Tirmidzi no.3540. Abu Isa mengatakan bahwa hadits ini gharib, Syaikh al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Free To Share

JIKA BERTAUBAT, SETIAP DOSA AKAN DIAMPUNI

Hadits di atas menunjukkan bahwa Allah benar-benar Maha pengampun. Setiap dosa kekufuran bisa diampuni selama seseorang bertaubat sebelum datangnya kematian walaupun dosa itu sepenuh bumi. Hal ini dikuatkan pula pada ayat Al-Qur’an, Allah Ta’ala berfirman,

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ


“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya dialah yang Maha pengampun lagi Maha penyayang.” (QS. Az-Zumar: 53)

Free To Share

Ibnu Katsir mengatakan, “Ayat yang mulia ini berisi seuran kepada setiap orang yang berbuat maksiat baik kekafiran dan lainnya untuk segera bertaubat kepada Allah. Ayat ini ,mengabarkan bahwa Allah akan mengampuni seluruh dosa bagi siapa yang ingin bertaubat dari dosa-dosa tersebut, walaupun dosa tersebut amat banyak, bagai buih dilautan.” (Tafsir Al-Qur’an Al’Azhim, Ibnu Katsir, 12/138-139, Muassasah Quthubah)

Ayat ini menjelaskan bahwa Allah akan mengampuni setiap dosa walaupun itu dosa kekufuran, syirik dan dosa besar seperti (zina, membunuh dan meminum minuman keras atu khamr). Sebagaimana telah dijelaskan dalam tafsir ibnu katsir, “Berbagai Hadits menunjukkan bahwa Allah mengampuni setiap dosa (termasuk pula kesyirikan) jika seseorang bertaubat.“Janganlah seseorang berputus asa dari rahmat Allah walaupun begitu banyak dosa yang ia lakukan karena pintu taubat dan rahmat Allah begitu luas.” (Tafsir Al-Qur’an Al’Azhim, 12/140)

SESEORANG YANG MELAKUKAN DOSA BERULANG KALI

Mengenai hal ini, coba kita renungkan hadits berikut ini. Dari Abu Hurairah Radhiallahu’anhu, Rasulullah Shalallahu’alaihi wa sallam bersabda yang diceritakan dari Rabbnya’azza wa jalla,

أَذْنَبَ عَبْدٌ ذَنْبًا فَقَالَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى ذَنْبِى. فَقَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَذْنَبَ عَبْدِى ذَنْبًا فَعَلِمَ أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِالذَّنْبِ. ثُمَّ عَادَ فَأَذْنَبَ فَقَالَ أَىْ رَبِّ اغْفِرْ لِى ذَنْبِى. فَقَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى عَبْدِى أَذْنَبَ ذَنْبًا فَعَلِمَ أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِالذَّنْبِ. ثُمَّ عَادَ فَأَذْنَبَ فَقَالَ أَىْ رَبِّ اغْفِرْ لِى ذَنْبِى. فَقَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَذْنَبَ عَبْدِى ذَنْبًا فَعَلِمَ أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِالذَّنْبِ وَاعْمَلْ مَا شِئْتَ فَقَدْ غَفَرْتُ لَكَ


“Ada seorang hamba yang berbuat dosa lalu dia mengatakan ‘Allahummagfirliy dzanbiy’ {Ya Allah, ampunilah dosaku} Lalu Allah berfirman, ‘Hamba-Ku telah berbuat dosa, lalu dia mengetahui bahwa dia memiliki Rabb. Yang mengampuni dosa dan menghukumi setiap perbuatan dosa’. (Maka Allah mengampuni dosanya), kemudian hamba tersebut mengulangi lagi berbuat dosa, Lalu dia mengatakan, ‘Ay robbigfirli dzanbiy’ [wahai Rabb, ampunilah dosaku]. Lalu Allah berfirman, ‘Hamba-Ku telah berbuat dosa, lalu dia mengetahui bahwa dia memiliki Rabb yang mengampuni dosa dan menghukumi setiap perbuatan dosa’. (Maka Allah mengampuni dosanya), kemudian hamba tersebut mengulangi lagi berbuat dosa, lalu dia mengatakan, ‘ay robbigfirli dzanbiy’ [wahai Rabb, Ampunilah dosaku]. Lalu Allah berfirman, ‘Hamba-Ku telah berbuat dosa, lalu dia mengetahui bahwa dia memiliki Rabb yang mengampuni dosa dan menghukumi setiap perbuatan dosa. Beramallah sesukamu, sungguh engkau telah diampuni.” (HR. Muslim no.2758). An Nawawi dalam Syarh Muslim mengatakan bahwa yang dimaksudkan dengan ‘beramallah sesukamu’ adalah selama engkau berbuat dosa lalu bertaubat, maka Allah akan mengampunimu.

An Nawawi mengatakan, “Seandainya seorang berulang kali melakukan dosa hingga 100 kali, 1000 kali atau lebih, lalu ia bertaubat setiap kali berbuat dosa, maka pasti Allah akan menerima taubatnya setiap kali ia bertaubat, dosa-dosanya pun akan gugur, Seandainya ia bertaubat dengan sekali taubat saja setelah ia melakukan semua dosa tadi, taubatnya pun sah.” (Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim,17/75)

Ya Allah sungguh sangat luas rahmat dan ampunan-Mu.

TAUBAT DENGAN TULUS (TAUBAT NASUHA)

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا


“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya).” (QS. At-Tahrim: 8)

Dijelaskan oleh Ibnu Katsir rahimahullah bahwa makna taubat yang tulus atau taubatan nasuha sebagaimana kata para ulama adalah, “Menghindari dosa untuk saat ini, menyesali dosa yang telah lalu. Bertekad tidak melakukannya lagi dimasa akan datang. Lalu jika dosa tersebut berkaitan dengan hak manusia, maka ia harus menyelesaikannya/ mengembalikannya.” (Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim, 14/61)

PENUHILAH SYARAT DITERIMANYA TAUBAT

Berdasarkan penjelasan Ibnu Katsir di atas, syarat taubat yang mesti dipenuhi oleh seseorang yang ingin bertaubat dapat dirinci secara lebih lengkap sebagai berikut.

  1. Taubat dilakukan dengan ikhlas, bukan karena makhluk atau untuk tujuan duniawi.
  2. Menyesali dosa yang telah dilakukan dahulu hingga ia pun tidak ingin mengulanginya kembali. Sebagaimana dikatakan oleh Malik bin dinar, “Menangisi dosa-dosa itu akan menghapuskan dosa-dosa sebagaimana angin mengeringkan daun yang basah.” [Lihat Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, Ibnu Rajab Al Hambali, hal. 203, Darul Muayyid, cetakan pertama, 1424 H.] ‘Umar, ‘Ali dan Ibnu Mas’ud mengatakan bahwa taubat adalah dengan menyesal. [Lihat Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam,hal.206]
  3. Tidak terus menerus dalam berbuat dosa saat ini. Maksudnya, apabila ia melakukan keharaman, maka ia segera tinggalkan dan apabila ia menginggalkan sesuatu yang wajib, maka ia kembali menunaikannya. Dan jika berkaitan dengan hak manusia, maka ia segera menunaikannya atau meminta maaf.
  4. Bertekad untuk tidak mengulangi dosa tersebut di masa akan datang karena jika seseorang masih bertekad untuk mengulanginya maka itu pertanda bahwa ia tidak benci pada maksiat. Hal ini sebagaimana tafsiran sebagian ulama yang manafsirkan taubat adalah bertekad untuk tidak mengulanginya lagi. [Idem]
  5. Taubat dilakukan pada waktu diterimanya taubat yaitu sebelum datang ajal atau sebelum matahari terbit dari arah barat. Jika dilakukan setelah itu, Maka taubat tersebut tidak lagi diterima. [Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhus Shalihin]

BACALAH DO’A AMPUNAN VERSI ABU BAKAR

Do’a yang bisa diamalkan adalah do’a meminta ampunan yang diajarkan oleh Nabi Shalallhu’alaihi wa sallam kepada Abu Bakr Ash-Shiddiq radiallahu’anhu. Dari Abu Bakr Ash Shiddiq Radhiallahu’anhu, beliau berkata kepada Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam,

عَلِّمْنِى دُعَاءً أَدْعُو بِهِ فِى صَلاَتِى . قَالَ « قُلِ :اللَّهُمَّ إِنِّى ظَلَمْتُ نَفْسِى ظُلْمًا كَثِيرًا وَلاَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ أَنْتَ ، فَاغْفِرْ لِى مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ ، وَارْحَمْنِى إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ »


“Ajarkanlah aku suatu do’a yang bisa aku panjatkan saat shalat!” Maka beliau pun berkata, “Bacalah: ‘ALLAHUMMA INNII ZHOLAMTU NAFSII ZHULMAN KATSIIRAN WA LAA YAGHFIRUDZ DZUNUUBA ILLA ANTA FAGFIRLII MAGHFIRATAN MIN ‘INDIKA WARHAMNII INNAKA ANTAL GHAFUURUR RAHIIM (ya Allah, sungguh aku telah mendzalimi diriku sendiri dengan kezhaliman yang banyak, sedangkan tidak ada yang dapat mengampuni dosa –dosa kecuali engkau. Maka itu ampunilah aku dengan suatu pengampunan dari sisi-Mu, dan rahmatilah aku. Sesungguhnya Engkau Maha pengampun lagi Maha penyayang)’.” (HR. Bukhari no. 834 dan Muslim no. 2705)

MELAKUKAN SHALAT TAUBAT

Shalat taubat adalah shalat yang dianjurkan berdasarkan kesepakatan empat madzhab [Lihat Shahih Fiqh Sunnah, Syaikh Abu Malik, 1/431, Al-Maktabah At-Taufiqiyah dan Al-Masu’ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah, 2/9662, Asy Syamilah]. Hal ini berdasarkan hadits,

« مَا مِنْ عَبْدٍ يُذْنِبُ ذَنْبًا فَيُحْسِنُ الطُّهُورَ ثُمَّ يَقُومُ فَيُصَلِّى رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ يَسْتَغْفِرُ اللَّهَ إِلاَّ غَفَرَ اللَّهُ لَهُ ». ثُمَّ قَرَأَ هَذِهِ الآيَةَ (وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ) إِلَى آخِرِ الآيَةِ


Tidaklah sorang hamba melakukan dosa kemudian ia bersuci dengan baik, kemudian berdiri untuk melakukan shalat dua raka’at kemudian meminta ampun kepada Allah, kecuali Allah akan mengampuninya,”Kemudian beliau membaca ayat ini: “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiyaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. [Q.S. Ali Imran:135]” (HR. Tirmidzi no.406, Abu Daud no.1521, Ibnu Majah no.1395. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini Shahih) [Hadits ini didho’ifkan oleh sebagian ulama, Namun sebagian menshahihkannya]. Meskipun sebagian ulama mendhoifkan hadits ini, namun kandungan ayat sudah mendukung disyari’atkannya shalat taubat. [Lihat Shahih Fiqih Sunnah, 1/431]

Shalat taubat ini bisa cukup dengan dua raka’at dan cukup niat dalam hati, tanpa perlu melafadzkan niat tertentu. Sebagaimana dalam hadits Arba’in An-Nawawi nomor 1 : Innamal’a malu binniyat

JAUHILAH LINGKUNGAN YANG BURUK DEMI MEMPERKUAT TAUBAT

An Nawawi mengatakan, “Hendaklah orang yang bertaubat mengganti temannya deng teman-teman yang baik, Shalih, berilmu, ahli ibadah, waro’ dan orang-orang yang meneladani mereka-mereka tadi, hendaklah ia mengambil manfaat ketika bersahabat dengan mereka.” [Idem]

Nabi Shalallahu’alaihi wa sallam juga mengejarkan kepada kita agar bersahabat dengan orang yang dapat memberikan kebaikan dan sering menasihati kita.

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْمِسْكِ ، وَكِيرِ الْحَدَّادِ ، لاَ يَعْدَمُكَ مِنْ صَاحِبِ الْمِسْكِ إِمَّا تَشْتَرِيهِ ، أَوْ تَجِدُ رِيحَهُ ، وَكِيرُ الْحَدَّادِ يُحْرِقُ بَدَنَكَ أَوْ ثَوْبَكَ أَوْ تَجِدُ مِنْهُ رِيحًا خَبِيثَةً


“Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang shalih dan orang yang jelek adalah bagaikan berteman dengan pemilik minyak misk dan pandai besi. Jika engkau tidak dihadiahkan minyak misk olehnya, engkau bisa membeli darinya atau minimal dapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi , jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar. Minimal engkau dapat baunya yang tidak enak.” (HR. Bukhari no.2101, dan Abu Musa)

Ibnu Hajar Al Asqolani mengatakan, “ Hadits ini menunjukan larangan berteman dengan orang-orang yang dapat merusak agama maupun dunia kita. Dan hadits ini juga menunjukan dorongan agar bergaul dengan orang-orang yang dapat memberikan manfaat dalam agama dan dunia.” (Fathul Bari, Ibnu Hajar Al Asqolani, 4/324, Darul Ma’rifah, Beirut 1379)

Semoga Allah menerima Taubat kita dan mengampuni dosa yang pernah kita lakukan dan menyesalinya. Hanya Allah lah yang memberi taufiq, rahmat dan hidayah.

Semoga Bermanfaat
Barakallahu fikum
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

ARTIKEL DAILYMUSLIM_ID
Artikel ini ditulis oleh Mohammad Aidul Azis pada 20 maret 2019 / 14 Rajab 1440H

DAFTAR PUSTAKA
Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, Pimpinan pondok pesantren Darus sholihin gunung kidul, Rumasysho.com

DUKUNG DENGAN SUBSCRIBE DIBAWAH

jangan lupa di konfirmasi dulu ya di email antum, agar bisa mendapat notifikasi dailymuslim_id via email

0 Response to "Ingin bertaubat / Taubatan nasuha, shalat taubat dll silahkan baca"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel